Pemerintah telah menetapkan peristiwa musibah di Sumatera Barat ini sebagai Musibah Nasional, yang untuk tahapan emergency dan pertolongan darurat itu dibutuhkan waktu kurang lebih satu bulan.
Berbagai Ibrah
Sebagai orang yang beriman dan sebagai bangsa yang religius, tentu kita semua harus bisa mengambil hikmah, pelajaran, dan ibroh dari berbagai musibah tersebut, sehingga kita bisa melakukan berbagai tindakan yang proaktif-positif, yang mencerminkan kedewasaan dan keberadaban kita sebagai bangsa yang menginginkan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan ke arah kehidupan yang lebih bermartabat, berkeadilan, dan sejahtera.
Pertama, musibah yang datang secara tiba-tiba dan mendadak tersebut menggambarkan betapa lemahnya kita sebagai manusia, ketika kita berhadapan dengan kekuasaan dan kehendak Allah SWT yang bersifat mutlak-absolut. Karena itu, sudah sepantasnya kita semua menghilangkan kesombongan dan ketakaburan kita kepada-Nya. Jiwa dan kepribadian religius yang tercermin dalam sikap sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami tunduk pada aturan-Mu Ya Allah). Itulah yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan keseharian kita. Sebab hanya dengan sikap itulah kita akan mendapatkan Al Falah (kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki), sebagaimana dikemukakan dalam QS An Nuur ayat 51-52: “Sesungguhnya jawaban (sikap) orang-orang mukmin ketika dipangggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menetapkan hukum diantara mereka, ialah kami mendengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut dan takwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan kemenangan.”
Aslamiyyatul Hayyah (islamisasi kehidupan) dalam pengertian menyesuaikan semua tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan ajaran Islam yang kebenarannya tidak diragukan lagi (QS Al Baqoroh ayat 147), merupakan agenda bersama yang sangat penting sekaligus merupakan sebuah keniscayaan dan kebutuhan.
Kedua, musibah tersebut merupakan sebagian dari peringatan Allah SWT kepada kita semua, agar kita menjauhkan diri dari perbuatan ifsad (merusak) terhadap lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Saling membunuh, saling memfitnah, dan saling menghasut antar sesama komponen umat dan bangsa, harus segera diganti dengan sikap islah (membuat kedamaian dan persaudaraan) yang dilandasi dengan keinginan kuat untuk saling memaafkan terhadap berbagai kesalahan yang pernah terjadi, dan keinginan kuat untuk melakukan koreksi dan introspeksi diri. Allah SWT berfirman dalam QS Huud ayat 117: “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kemaslahatan.”
Islah dan membuat kemaslahatan diantara sesama umat manusia (apalagi di bulan syawal ini) merupakan perbuatan terpuji yang akan mengundang rahmat dan pertolongan-Nya. Menebarkan salam kedamaian dengan ucapan dan tindakan menjadi kunci utama kebahagiaan dan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Said Al Hudri, Rasulullah SAW bersabda: “Berbuat kebaikan (pada sesama manusia) akan mencegah berbagai keburukan-keburukan.” Dalam hadits lain, beliau juga bersabda: “Tebarkan salam (dengan ucapan dan tindakan), perkuat hubungan persaudaraan, dan sholatlah pada malam hari (sholat tahajjud ketika orang-orang lain tertidur), kelak engkau akan masuk kedalam syurga dalam keadaan selamat.”
Ketiga, musibah ini hendaknya menggugah kesadaran kita semua untuk semakin memperkuat sikap ta’awwun (saling tolong menolong) dan solidaritas serta tanggung jawab sosial. Apa yang terjadi pada saudara-saudara kita yang kini sedang menghadapi musibah yang dahsyat, harusnya dianggap dan dirasakan sebagai musibah kita semuanya. Satu perasaan itulah yang merupakan ciri utama orang-orang yang bersaudara. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori, Rasulullah SAW bersabda: “Engkau lihat orang-orang mukmin dalam keadaan saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dingin (demam).”Alhamdulillah kini kita melihat sebuah pemandangan yang sangat indah di balik musibah yang dahsyat ini, muncul kembali dengan kuatnya perasaan solidaritas sosial dari masyarakat dan bangsa kita. Mereka berlomba-lomba untuk menginfakkan sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada mereka yang mendapat musibah tersebut. Di samping itu doa dan sholat ghaib untuk mereka yang wafat dalam musibah tersebut terus menerus dilakukan di berbagai tempat dan daerah di seluruh tanah air. Relawan-relawan dari berbagai organisasi Islam dan organisasi zakat datang silih berganti untuk memberikan bantuan seoptimal mungkin yang bisa mereka lakukan. Nuansa kesatuan hati nampak kembali menguat di kalangan masyarakat dan bangsa Indonesia. Memang solidaritas umat harus terus-menerus dirajut dan diperkuat kembali, bukan hanya pada waktu mendapatkan musibah, akan tetapi sepanjang masa dan sepanjang hayat. Mudah-mudahan dengan sikap ini kita akan mampu membangun kembali bangsa dan negara dengan kekuatan sendiri disertai ketawakalan pada Allah SWT.
Wallahu ‘alamu bi ash-Showab.
sumber: http://baznas.or.id/ind/index.php?view=detail&t=hikmah&id=20091019002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar